Mengenal Atraksi Pasola, Festival Budaya Asli Sumba, NTT

Posted on

Apakah anda pernah mengunjungi Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur?  Jika belum, anda harus coba pergi kesana. Tidak perlu khawatir dengan biaya pesawat yang mahal, karena saat ini, banyak sekali maskapai penerbangan yang jual tiket pesawat murah ke seluruh destinasi wisata di Indonesia.

Dibulan ini, ada atraksi Pasola, yaitu atraksi perang-perangan lembing dengan berkuda khas Sumba. Untuk tahun ini, festival Pasola akan digelar pada tanggal 18-21 Februari juga pada tanggal 17-20 Maret yang akan  diselenggarakan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Pasola merupakan atraksi wisata yang menjadi ikon budaya Sumba, yaitu upacara perang tradisional berkuda dan saling melempar lembing dari atas punggung kuda yang berlari kencang.

Atraksi adat ini hanya diselenggarakan sekali dalam satu tahun, dan diselenggarakan disetiap destinasi yang telah ditentukan oleh Raja adat (Rato) di Kodi. Atraksi wisata Pasola sendiri sudah terkenal hingga penjuru dunia, itulah mengapa,  saat ada festival Pasola, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat atraksi tradisional asli Indonesia ini.

Nama Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola“, yang berarti lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar. Acara melempar lembing kayu ini dilakukan para pemuda desa di Sumba. Permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda ini merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional, yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli mereka yang disebut Marapu, yaitu agama lokal masyarakat Sumba.

Kegiatan Pasola ini biasanya diadakan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Untuk ritual Pasola sendiri biasanya dilaksanakan setiap awal bulan Februari, akan tetapi perhitungan penentuan tanggal Pasola dihitung mulai dari munculnya bulan purnama, dan setelah itu acara pelaksanaan Pasola akan ditentukan oleh Rato Nyale yang merupakan orang penting dalam hal penentuan tanggal pelaksanaan Pasola.

Budaya yang kental dan pertimbangan Rato Nyale inilah yang membuat jadwal Pasola terkadang bisa berubah, tetapi jika mereka sudah menentukan kapan tanggal yang pas untuk melaksanakan Pasola, baru setelah itu Pemerintah Daerah menetapkan kapan Pasola akan diadakan.

Saat yang tepat untuk melihat Pasola sebenarnya datang 1 sampai dengan 2 hari dari hari dimana Pasola akan diadakan. Sebelum mengadakan Pasola, terlebih dahulu dilaksanakan tradisi nyale yang merupakan puncak dari segala kegiatan untuk memulai Pasola.
Adat nyale adalah salah satu upacara yang memanjatkan rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai.
Adat tersebut dilaksanakan pada waktu bulan purnama dan cacing-cacing laut (dalam bahasa setempat disebut nyale) keluar di tepi pantai.

Para Rato (pemuka suku) akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari, setelah hari mulai terang. Nyale kemudian dibawa ke majelis para Rato untuk dibuktikan kebenarannya dan diteliti bentuk serta warnanya.

Bila nyale tersebut gemuk, sehat, dan berwarna-warni, pertanda tahun tersebut akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Sebaliknya, bila nyale kurus dan rapuh, akan didapatkan malapetaka. Setelah itu penangkapan nyale baru boleh dilakukan oleh masyarakat. Tanpa mendapatkan nyale, Pasola tidak dapat dilaksanakan.

Pasola sendiri dilaksanakan di padang yang luas dan bisa disaksikan oleh banyak orang. Baik itu warga dari kedua kelompok yang bertanding, masyarakat umum, sampai wisatawan asing maupun lokal. Setiap peserta Pasola terdiri dari 100 orang lebih pemuda Sumba, mereka menunggang kuda sambil bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul dan berdiameter kira-kira 1,5 cm. Walaupun berujung tumpul, permainan ini dapat memakan korban jiwa.

Kalau ada korban dalam Pasola, menurut kepercayaan Marapu, korban tersebut mendapat hukuman dari para dewa karena telah melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan.

Dalam permainan Pasola, penonton dapat melihat secara langsung dua kelompok ksatria Sumba yang sedang berhadap-hadapan, kemudian mereka memacu kuda secara lincah sambil melemparkan lembing ke arah lawan.

Sorak sorai penonton yang menyemangati para peserta Pasola semakin menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Walaupun ada darah tercucur di tanah, konon darah tersebut bisa kembali menyuburkan tanah.

Pasola adalah salah satu tradisi, dari sekian banyak kekayaan budaya Indonesia yang sangat kental dengan budaya dan masih terjaga kelestariannya, hal ini pula yang membuat Pasola menjadi festival budaya yang sangat menarik dan entertaining.
Tertarik untuk melihat atraksi dan festival budaya asli Indonesia ini? Anda bisa segera pergi ke Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan beli tiket pesawat online di Reservasi.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *